Minggu, 13 November 2016

Menghipnotis Senja

Aku takut? Tatapan matanya,bukannya dia galak,kaku dan dingin mungkin atau tidak.Apa itu yang kutakuti ? tidak,belum tau maksudnya.Asrama di dekat kebun rambutan jadi tempat tinggal pertamaku disini.Kenapa aku membahas hal ini?kenapa aku begini? Teringat kenangan? Masa lalu? Tidak,satu bulan disini aku mulai merasa nyaman,sesekali dia menatapku tajam.Ah,itu biasa.kenyamananku mulai terusik,rasa takut itu muncul setelah dia menggantikan pembimbing tahfidz.Bukan mata itu yang aku takuti,tapi setiap ingin menyetorkan hafalanku ke dia sekejap hafalanku hilang,mungkin aku belum terbiasa,hal itu terus berlanjut dan seiring berjalannya hari bibir ini mulai mengeluarkan sepatah kata.
Malam itu kita berkumpul di mushola,dia memberikan wejangan.yeah...baru kali ini aku melihatnya berbicara, suasana berbalik.Setelah bersepeda dan berbelanja ke pasar aku mulai memasak,dia mengagetkanku dan mengajakku berbicara,tanganku yang sibuk memainkan alat masak tidak berhenti sejenak layaknya seperti irama bibirku menjawab perkataannya sambil  meliuk di depan meja dapur.Saking nyamannya tinggal disini,terkadang aku pergi tugas sendiri atau dengan kelompok lain.Sendiri itu bebas,yeah...hampir semua daerah disini telah kukayuh dengan sepeda gunung,track disini berbukit cocok sekali dengan hobiku.Saat SMP aku sering bersepeda di tiga perempat malam,itu caraku agar tidak tertarik dengan rokok atau miras.Yeah,temen sekelasku dengan bangganya melakukan hal itu tiap ekskul day.Hoax,memang remaja sering merasakan stres ketika ada masalah,yang dibutuhkan adalah ketenangan bukan kesenangan,karenanya aku bersepeda di malam hari melewati jalan sepi seperti kompleks eks pabrik gula,belakang PT.INKA dan sampai ke tengah ladang persawahan.Tapi semua itu terlalu mainstrem,malam itu hatiku bergemuruh,insomnia itu biasa.Aku keluar asrama dan bersepeda keliling pemkab dan mampir kesebuah danau. “Ada apa?”.”Bagaimana jika aku berenang?”.”Seberapa dalam ya?”.”Eh,aku tidak bisa berenang”.Kakiku berayun-ayun menyentuh air,sorotan cahaya lampu samar-samar,pukul 23:45 WIB,aku terdiam mataku terpejam dan badan mulai lemas seakan siap terhempas.Aku tersadar setelah mencium sesuatu, pemancing di sebelahku kehilangan kesadaran.Sial,dia mabuk.Aku segera pulang.Ketua kelompokku mulai jarang datang ke asrama.Walaupun tidak ada intruksi,aku tetap bertugas.Tak seperti biasa,hari ini gerimis,kita masih tertahan di asrama.Kami nekad berangkat.”Eits,tunggu dik,antum bareng ane aja naik motor”,nggak ada petir kan? Ini masih pagi.Hmm,oke adrenalinku mulai meningkat tapi sikapku dingin,anggap saja sama seperti ketua kelompokku.”Hujannya cuma di bukhori doang ya dik,tuh disini aja terang”.sesekali kita mengobrol di perjalanan,melewati area pemkab berjajar penjual durian di mobil bak terbuka.”Aromanya,hmm”.”Durian dik?”.”Haa?”.”Kamu bisa renang ngak? berani renang disitu?”.wajahnya menoleh ke danau.”Haa?” aku tersenyum.