![]() |
|
| Nama lengkap | Persatuan Sepak Bola Indonesia Ngawi |
|---|---|
| Julukan | Laskar Alas ketonggo |
| Didirikan | 1958 |
| Stadion | Stadion Ketonggo Ngawi, Indonesia (Kapasitas: 10.000) |
| Pemilik | Pemkab Ngawi |
| Manajer | Dwi Rianto Jatmiko SH, M.Si |
| Pelatih | |
| Liga | Divisi Utama Liga Indonesia |
| 2013 | ke-2 |
Jumat, 08 Januari 2016
PERSINGA NGAWI
MISTERI ALAS KETONGGO
Eyang Srigati adalah Priyagung, seorang begawan dari Benua Hindia yang
datang ketanah jawa. Beliaulah yang menurunken Kerajaan-kerajaan di
Indonesia mulai dari Pajajaran, Majapahit, Mataram dan seterusnya. Semua
kisah Spiritual tertuang di Punden Srigati yang terdapat di desa
Babatan kec. Paron. Kab. Ngawi.
NGAWI. Alas Srigati ataupun dikenal dengan sebutan alas Ketonggo
merupakan tempat yang bersejarah menurut dari legendanya. Dengan adanya
daya tarik tersendiri itulah seperti biasanya pada saat 1 Muharam atau
pergantian malam bulan hijriyah selalu dipadati ribuan pengunjung dari
berbagai daerah. Sejak waktu mulai beranjak malam para pengunjung mulai
berdatangan, mereka ada yang datang dengan cara berkelompok dan
perseorangan. Terlihat dari plat nomor mobil yang dipakai pengunjung
dapat dinyatakan mereka berasal mulai daerah Yogyakarta, Solo, Semarang,
Surabaya dan daerah terdekat dengan Ngawi seperti Nganjuk, Kediri dan
Malang.
Acara ritual yang dilakukan para pengunjung di Alas Srigati waktunya pun
bervariasi mulai tengah malam sampai waktu shubuh. Dan begitu juga
tempatnya berlainan karena dilokasi Alas Srigati sendiri ada sekitar 12
lebih tempat petilasan. Seperti Punden Krepyak Syeh Dombo atau
Palenggahan Agung Brawijaya, Padepokan Kori Gapit, Palenggahan Watu
Dakon, Sendang Drajat, Sendang Mintowiji, Goa Sido Bagus, Sendang Suro,
dan Kali Tempur.
Menurut juru kunci Alas Srigati, Ki Among Jati menjelaskan secara rinci,
para pengunjung yang datang di Alas Srigati biasanya mereka ingin napak
tilas mengenang sejarah dimana Raja Majapahit yaitu Prabu Brawijaya V
singgah terlebih dahulu di Alas Srigati untuk melepaskan baju
kebesarannya sebelum melanjutkan perjalanan ritual ke puncak Gunung
Lawu.
Lanjut Ki Among Jati, pengunjung di Alas Srigati tidak melakukan hal-hal
yang sifatnya syirik, seperti menyembah punden segala macam. Akan
tetapi para pengunjung melakukan ritual mengambil tempat Alas Srigati
hanya sebagai tempat perantara untuk menyambung segala permintaan kepada
Allah SWT. Seperti terlihat di Palenggahan Agung Brawijaya pengunjung
sambil membakar dupa sebagai bentuk permintaan dan do’a kepada Yang Maha
Kuasa. ‘’Disini pengunjung mempunyai berbagai permintaan untuk
dikabulkan dari Yang Maha Kuasa, seperti minta kesehatan, keselamatan
dan masih banyak lagi dan jangan dianggap di Alas Srigati ini melakukan
hal-hal yang menyimpang dan untuk hari biasa yang ramai dikunjungi yaitu
pada hari malam Jum’at Kliwon, Jum’at Legi dan malam Selasa Kliwon’’
jelas Ki Among Jati.
Sementara kilas balik dari sejarah ditemukannya petilasan Srigati
merupakan dari jasa mantan Kepala Desa Babadan pada tahun 1963 yaitu
Somo Darmodjo kemudian tahun 1974 didatangai Gusti Dorodjatun IX
menyatakan benar bahwa petilasan Punden Krepyak Syeh Dombo merupakan
bagian dari sejarah dari Majapahit.
Saat itu Prabu Brawijaya melakukan perjalanan menuju puncak Gunung Lawu
dan oleh Gusti Dorodjatun IX dinamakan dengan sebutan Srigati. Namun,
dengan adanya wisata religi Alas Srigati tidak dibarengi pengembangan
potensi yang ada seperti fasilitas jalan yang menuju lokasi Alas Srigati
yang kondisinya sangat rusak terlihat disana-sini berlubang.
Alhamdulilah dari tahun 2011 jalan menuju ke alas srigati atau ketonggo
sudah mulai di perbaiki, begitu pula gerbang pintu masuk, warung,
mushola dan prasarana lainnya.
Alas Ketonggo, “alas” berarti hutan, dasar pokok atau keramaian.
Ketonggo berasal dari kata “katon” (terlihat) dan “onggo” (makhluk
halus) atau makhluk halus atau kehidupan yang halus yang katon atau
kelihatan. Siapapun yang meyakini kekuasaan Tuhan harus meyakini adanya
alam rohani, tempat kehidupan makhluk-makhluk rohani atau gaib. Ada
kehidupan setelah terjadi kematian, yaitu alam kehidupan gaib atau alam
rohani bagi para arwah yang telah meninggalkan dunia atau alam kehidupan
jasmani.
Mengapa alas ketonggo menjadi sinandi pencerahan rohani dan jasmani
beserta kejayaan umat manusia, di dalam pengetahuan luhur budaya Jawa?
1. Alas walaupun disebut hutan yang oleh beragam makhluk hidup seperti
pepohonan, hehewanan serta makhluk halus yang berasal dari arwah-arwah
para leluhur masa silam, sebagai ekspresi fenomena hawa dan nafsu kita
semua, yang liar dan terkendali.
2. Sinandi alas ketonggo sebagai sinandi kehidupan jagat cilik (hawa dan nafsu-kita) dan jagat gedhe (alam semesta).
3. Alas ketonggo dalam pengertian jagat cilik adalah fenomena kehidupan
kita, yang pada dasarnya sulit dikendalikan tetapi harus mampu kita
kendalikan. Sedangkan alas ketonggo dalam arti makro atau dalam
pengertian nyata, seperti Kraton beserta Raja-nya sebagai sentral
budaya, tempat-tempat yang dimitoskan atau disakralkan dalam kegiatan
peziarahan. Arti pesan yang mendalam bahwa kita tidak boleh meninggalkan
budaya dan sejarah masa lalu.
4. Alas Ketonggo tempat arwah-arwah para leluhur yang telah meninggalkan
dunia puluhan hingga ratusan tahun, namun belum berpulang dihadirat
Tuhan, dan masih menyimpan rapi di dalam tubuh halus maniknya.
5. Banyak pengetahuan masa silam yang sebagai simbol jati diri dan
identitas bangsa-mu di Alas Ketonggo. Oleh itu, kehidupan para arwah
leluhur masih aristokrat, sesuai peradaban budayanya lalu.
6. Peradaban budaya beserta nilai-nilai luhur masa silamnya menyimpan
potensi kekuatan identitas dan jati diri bangsa-mu. Apabila bangsa-mu
ingin jaya dan menjadi terang dunia harus berpijak pada budaya atau jati
diri dan identitasmu.
7. Jangan melupakan sejarah atau budaya leluhur-mu, jika melupakan sejarah dan budaya-mu dari situlah kelemahan bangsa-mu.
8. Pahamilah sandi Alas Ketonggo, sebab dialah yang menyimpan sejarah,
rahasia dan kenangan masa lalu yang membantu dirimu untuk menemukan jati
diri dan identitasmu.
9. Bukankah bangsamu mengalami krisis keyakinan dan kepercayaan akan
jati diri dan identitasmu. Artinya bangsamu telah asing mengenali
potensi dirinya.
10. Bahkan bangsamu tidak mengetahui dan menyadari kekrisisannya. Itulah
bencana akibat meninggalkan pilar dan pondasi budayanya.
11. Negara dan bangsa manapun akan mengalami kejayaan jika telah
menemukan jati diri dan identitasnya (budayanya) dan itu tersimpan dalam
sandi Alas Ketonggo.
12. Walaupun sandi Alas Ketonggo disebut dan dikatakan mitos bagi
pemahaman modern, tetap mereka jaya sebagai pusat pemikiran dikarenakan
berangkat dari mitos atau yang disebut angan-angan, harapan, cita-cita,
impian, dll.
13. Bangsa manapun tidak akan maju dan jaya jika meninggalkan
angan-angan, harapan, cita-cita, keinginan, kehendak, harapan, impian
yang kesemuanya adalah simbol mitos.
14. Lihatlah bangsa-bangsa yang telah jaya, mereka mengawali kejayaannya
dengan kesadaran kolektif mitosnya di dalam jiwa pikiran, perasaan,
budi dan perilaku indera jasmaninya atau cipta, rasa dan karsanya.
15. Alas Ketonggo sandi untuk menggali jati diri dan identitasnya
sebagai awal mengumpulkan kekuatan untuk terbebaskan dari kesengsaraan,
derita, ketidaktentraman dan ketidakdamaian, ketidakmakmuran, kemiskinan
dan belenggu bangsa-mu.
16. Bangsa yang telah jaya menggali budaya asalnya sendiri melalui
prosesi sinandi alas ketonggo dengan menghormati perjuangan leluhurnya.
17. Bagaimana bangsamu atau dirimu akan mendapatkan pencerahan dan
kemerdekaan hidup bagi bangsamu, jika dirimu saling berjuang demi
kepentingan dan kekuasaan kelompok-mu.
18. Salah satu nasehat sinandi Alas Ketonggo,“Janganlah energi jiwa hawa
dan nafsumu saling bertubrukan menyalakan api kesengsaraan yang
menambah dirimu atau bangsamu saling terbelenggu dan membelenggu”.
19. Jika energi jiwa hawa dan nafsumu saling bertubrukan atau
bertabrakan maka dirimu akan saling memiliki kebingungan, saling
memiliki kekhawatiran, saling memiliki ketakutan, sekalipun hal itu
terungkap atau tidak terungkap.
20. Masuklah ke alam alas ketonggo, disitulah banyak pengetahuan yang
mengisi kekurangan dan kelemahanmu, agar dirimu tidak mudah bingung,
takut, khawatir, menderita dan sengsara, dll.
21. Jika dirimu mampu membuka sinandi Alas Ketonggo, ambillah potensi
lebihnya dan jadikan kelemahannya menjadi hikmah, agar dirimu trampil
menghimpun kekuatan dan mengerti keinginan dan kehendak energi hawa dan
nafsu untuk menyelamatkan generasi muda bangsa-mu.
22. Jika telah mampu membuka sinandi Alas Ketonggo, para leluhurmu akan
berinteraksi denganmu dan memberikan pengetahuan yang memubuat bangsa-mu
jaya dan maju.
23. Memasuki alas ketonggo diperlukan seni ketrampilan melepaskan
belenggu tubuh jasmani, jika tidak memiliki hanya akan dapat kesunyian
dan aktivitas kesendirian tanpa arti dan makna seperti melamun atau
menghayal.
24. Alangkah lebih lengkapnya jika dirimu yang memiliki kecerdasan akal
jasmani, kemudian memiliki kecerdasan rohani di dalam pikiran, perasaan
dan budimu, maka pengetahuan dan ketrampilanmu akan disebut seimbang.
25. Sungguh keseimbangan diperlukan jika memasuki alas ketonggo, agar
akal jasmani dipersiapkan agar tidak mengalami gejolak keterbatasan
dengan kehidupan rohani.
SukaSuka ·
Alas Ketonggo Ngawi ( Srigati ) Menyimpan Berjuta Misteri
SRIGATI begitulah nama ini yang terkenal di kalangan masyarakat Ngawi
daripada nama asli hutannya yaitu Alas Ketonggo. Nama Srigati ini
sebenarnya merupakan sebuah tempat dimana seseorang mencari kedamaian
batin untuk mendapatkan pencerahan dari sang pencipta agar dapat
menyelesaikan sebuah masalah atau sekedar mendekatkan diri kepada sang
Kholiq melupakan sejenak masalah duniawi.
Pada tahun 2013 kemarin tempat ini juga sempat menjadi bidikan acara TV
swasta Nasional dalam acara Mister Tukul Jalan-jalan, di dalam acara
tersebut ustad Solehpati juga menjelaskan berbagai cerita dan tempat
ghaib berupa jalan menuju sebuah kerajaan, dan di perkuat lagi gambar
ghaib dari ustad solehpati. untuk video anda bisa mengunjungi youtube.
Dari gambar di atas sudah jelas bahwa Srigati merupakan tempat yang
banyak memiliki misteri yang tidak bisa di ungkap dengan kekuatan
manusia, karena hanya Allah SWT yang maha tahu. Dan pada saat bulan
Agustus tepatnya hari kemerdekaan banyak kalangan pelajar terutama
Ekskul Pramuka mengadakan Perkemahan tingkat Kwarcab di Srigati. Agar
anak didik lebih menghargai lingkungan dan alam tanpa meninggalkan
sejarah.
------------
Tersesat di Kampung Jin Alas Ketonggo
sumber Kompasiana
Gerbang Alas Ketonggo
sumber Kompasiana
Gerbang Alas Ketonggo
Alas Ketonggo di Ngawi ini adalah salah satu obsesi untuk Dikunjungi.
Entahlah saya begitu menyukai sesuatu tempat yang menyimpan mitos dan
misteri. Dua bulan yang lalu saya berkesempatan mengunjungi salah
satunya, Alas Ketonggo atau Alas Srigati di Kab. Ngawi. Mungkin karena
itulah, hampir semalaman mataku sulit terpejam membayangkan betapa
asiknya perjalanan ke Alas Ketonggo, Paron, Ngawi, Jawa Timur. Dan
rencananya saya berangkat dengan dua teman yang sudah janjian
sebelumnya.
Adzan subuh berkumandang dari corong Musholla yang tak jauh dari rumah
di mana saya tinggal di Tuban. Saya beranjak dari peraduan untuk
mempersiapkan segala sesuatunya guna perjalanan nanti.
Sekitar pukul 09.00 WIB, dua teman saya datang. Setelah sejenak
berbincang sambil meyeruput kopi panas, kami pun langsung berangkat
dengan mobil menuju lokasi. Estimasinya jarak tempuh ke Ngawi paling
lama 4-5 jam perhitungannya pada lepas Asyar nanti kita sudah sampai
lokasi.
Pesarean Srigati
Perjalanan melewati jalan-jalan kota dan jalan raya provinsi tidaklah
terlalu istimewa. Namun memasuki pedesaan wilayah Padangan, Bojonegoro
suasana mulai terasa istimewa. Hawa lumayan sejuk memasuki anggota
tubuhku yang dari Tuban menuju Ngawi sekaligus merangkap sopir. Di
pinggir kanan kiri jalan, tampak rimbunnya hutan jati yang tertimpa
cahaya senja.
Baiklah, saya ceritakan sedikit mengenai tempat tujuan saya kali ini
yakni Alas Ketonggo. Bagi siapa pun yang gemar akan wisata spiritual
pasti sudah pernah mendengar nama Alas Ketonggo atau ada sebagian orang
yang menyebutnya dengan alas Srigati. Kawasan hutan yang memiliki
pemandangan cukup indah ddan rindang ini ternyata menyimpang sejuta
misteri penuh nuasa mistis.
Alas Ketonggo, adalah hutan dengan luas kurang lebihnya 5000 meter
persegi, yang berada lereng Gunung Lawu tepatnya di Desa Babadan,
Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi, dengan waktu tempuh sekitar satu jam
dari pusat kota Keripik ini kearah selatan
Perjalanan dari Tuban ke Ngawi ini sebenarnya relative mudah, hanya
beberapa ruas jalan di Kalitidu, Bojonegoro saja yang agak macet karena
ada pengecoran jalan yang belum rampung. Ternyata benar perhitungan
saya, kami baru sampai di gerbang Srigati atau Alas Ketonggo sekitar
pukul 5 sore. Meski sebelumnya kami sempat nyasar kurang lebih 20 KM
kebablasen.
Karena baru pertama kali, hal pertama yang saya lakukan adalah mengambil
gambar disekitar lokasi. Setelah merasa cukup dengan mengambil gambar
disekitar lokasi pintu masuk Alas Ketonggo dan melapor sama juru kunci
perihal kedatangan kami. Kami melepas penat karena semenjak berangkat
dari Tuban menuju ke Alas Ketonggo ini kami tanpa istirahat, sekaligus
kami sempatkan untuk mengisi perut yang memang banyak warung di pintu
masuk ini.
Di Srigati atau Alas Ketonggo ini dari penuturan Pak Marji adalah konon
kabarnya, tempat ini dulunya adalah tempat peristirahatan Prabu
Brawijaya V setelah lari dari kerajaan Majapahit karena kerajaan diserbu
oleh bala tentara Demak dibawah pimpinan Raden Patah. Disini, terdapat
Pelenggahan Agung yang banyak dijadikan sebagai tempat bermeditasi bagi
mereka yang ingin Ngalap berkah dalam usaha dan Lain-lain.
Masyarakat sekitar percaya bahwa Pelenggahan tersebut merupakan tempat
dimana Raden Wijaya bertapa mencari petunjuk sebelum membangun kerajaan
Majapahit. Di Srigati juga terdapat sebuah batu besar yang biasa di
sebut “Watu Gede” atau Batu Besar, konon disinilah merupakan pintu
gerbang kerajaan “Dunia Lain” yang ada disana. Selain itu disini ada
sebuah tempat bertemunya dua muara sunga yang disebut “Kali Tempuk” yang
sering digunakan untuk mandi bagi mereka yang mendalami ilmu kekebalan,
agar awet muda, dan berbagai tujuan lainnya.
Setelah menikmati mie rebus dan segelas kopi di warung waktu sudah
menujukkan pukul 18.30. seperti petunjuk Pak Marji sang juru kunci
adalah waktu yang tepat untuk mandi di kali tempuk atau dua aliran
sungai yang bertemu
Mudah saja menuju akses ke lokasi Kali Tempuk ini karena ada papan
petunjuknya. Sampai pada lokasi terlihat masih ada banyak peritual yang
tapa berendam di kali ini sambil menyulut dupa/hioswa. Karena menunggu
terlalu lama peritual yang lain mentas, akhirnya saya putuskan untuk
mandi juga dan tak berapa lama kemudian peritual lain selain kami
bertiga sudah mentas dan naik. Tinggal kami bertiga.
Salah satu hal yang akan membuat hati merasa diselimuti hawa mistis di
sini adalah ketika kita melihat orang-orang yang sedang melakukan
ritual. Ada yang bertapa dipinggir kali, nyekar bunga di bawah pohon,
bahkan ada yang rela tinggal di situ mengabdikan dirinya untuk terus
bertapa di alas (hutan) ini. Memasuki Palenggahan Agung yang nampak
adalah kain putih sebagai simbol kesucian yang menambah hawa mistis di
sini.
Tak lebih dari sejam kami bertiga berendam di Kali Tempuk itu, selain
karena banyak nyamuk juga lumayan dingin. Setelah mengobrol sejenak dan
menikmati nuansa malam sungai yang terbalut mistis tadi kami bertiga pun
beranjak naik untuk melewatkan malam di Palenggahan Agung.
Namun anehnya, perasaan saat akan menuju ke Kali Tempuk ini tidak ada
jalan bercabang namun bengitu kami sampai ada jalan bercabang.
Barangkali tadi kami kurang jeli, pikirku. Tapi hati kecilku sangat
yakin kalau jalan setapak ini tunggal yang harusnya menikung kekiri
kalau dari atas. Karena bingung, saya minta seorang temen yang paling
depan untuk berhenti sejenak dan meminta pertimbangan pilih yang mana,
kiri atau ke kanan. Karena dua teman sepakat yakin yang kiri ya sudah
saya manut saja. Tapi sejujurnya saya yakn arah yang kanan jalan menuju
ke Palenggahan Agung.
Beberapa menit perjalanan, saya mulai melihat keanehan yang tidak
biasanya kami lewati barusan saat akan menuju ke Kali Tempuk. Di arah
depan ada kabut yang amat tebal, mungkin ini fenomena alam biasa. Jadi
tidak ada alas an dengan kabut itu. Kira-kira semenit perjalanan kami
menembus kabut tebal itu, akhirnya kabut mulai menipis. Setelah itu,
kami memasuki sebuah perkampungan yang amat asing bagiku. Mengapa,
seingatku tak ada kampung selain deretan warung penyedia makanan dan
minuman di Alas Ketonggo ini. Saya mulai tersadar kalau kami memang
kesasar.
“Kayaknya, kita salah jalan ya, Kang!” kata seorang temen yang paling
depan yang lantas kemudian saya mengajak dua teman yang lain untuk
berhenti berjalan.
“Wah, kalau begitu kita tanya saja ke orang-orang itu,” ujar temen saya
yang lain. Ketika itu memng terlihat beberapa orang tengah berjalan
searah dengan kami atau sebaliknya. Sangat aneh!
“Sebentar dulu,, kita jalan saja dulu pelan-pelan. Coba perhatikan ada
yang aneh nggak dengan suasana di kampung ini. Perasaanku mengatakan,
kampung ini memang aneh.” Kataku setengah berbisik.
Kami berjalan pelan dan sesekali berhenti. Kami perhatikan kampung itu
dengan hati yang kian tak menentu. Hal utama yang menarik perhatianku
adalah ketika aku melihat banyak sekali jagung yang sudah dikupas
dibiarkan begitu saja di pinggir jalan perkampungan. Beberapa orang
laki-laki juga terlihat berdiri di depan pintu pagar rumahnya
masing-masing. Ada juga terlihat wanita-wanita yang menggendong
anak-anaknya dengan kain batik. Saya lihat juga ada orang sedang membuat
perapian di halaman rumahnya. Dari semua yang kami perhatikan itu,
untuk sementara kami belum menyadari adanya keanehan dari orang-orang
itu.
“Kita berhenti saja kang di depan warung itu. Kita coba tanya saja jalan
ke Palenggahan Agung!” pinta seorang temen sambil menunjuk keaarah
sebuah kedai yang ada di pinggir jalan. Dan saya menyepakatinya.
Ternyata pemilik warungnya adalah seorang wanita. Namun sebelum
bertanya, saya bisikkan pada temen untuk membaca Bismillah…
Sementara seorang teman berjalan kearah wanita pemilik warung itu dan
sedang sibuk menyapu lantai warungnya barangkali menjelang tutup, pikir
saya. Saya memperhatikan warung kecil itu. Warung itu terlihat menjual
berbagai kebutuhan hidup sehari-hari seperti sabun, odol, kue-kue kecil,
aneka gorengan, beras, kopi sachet, sapu lidi, dll.
Kemudian saya perhatikan wanita pemilik warung itu. Saya coba mengenali
wajahnya. Tapi tak bisa. Rambutnya panjang terurai kira-kira sebatas
punggung. Seolah mengerti kalau sedang saya perhatikan, dia hanya
menunduk sambil tangannya terus menyapu-nyapu lantai ditempat yang sama.
Saya lihat temen saya bertanya padanya. Tapi anehnya wanita pemilik
warung itu tidak terlihat mengangkat wajahnya. Dia seperti parasnya
tidak diketahui oleh orang lain. Sesaat kemudian, temen saya yang
bertanya itu kembali kearah kami berdua. “Gimana?” tanyaku.
“Katanya, terus saja jalan. Nanti juga sampai!” jawab temenku. Dia lalu
menggumam. “Perempuan itu aneh sekali. Dia mau bicara denganku, tapi
mukanya menunduk terus”.
“Aku juga lihat hal itu kok!” tanggapku. Lalu saya berinisiatif, “Sebentar ya. Aku mau beli gorengan dulu!”.
Karena rasa penasaran, saya mencari alasan agar bisa mendekati wanita
itu. Ketika itu, spontan terlintas dalam pikiranku hendak membeli
gorengan. Disamping untuk melihat lebih dekat si pemilik warung,
setidaknya gorengan itu lumayan juga untuk pengganjal perut.
“Assalamu’alaikum!” saya member salam padanya. Tanpa menjawab salamku,
kali ini dia berhenti menyapu tapi tetap menundukkan wajahnya.
Lalu katanya dengan ketus, “Ada apa lagi, Mas!”
“Saya mau membeli pisang gorengnya, Bu!” jawabku.
Wanita itu diam sejenak, lalu jarinya menunjuk kearah plastik
pembungkus, sambil katanya lagi. “Silahkan pilih saja…itu kantongnya!”
Saya mengambil kantung plastic di dekat gorengan pisang itu. Laku saya
masukkan 10 buah kedalamnya. “Sepuluh biji saja, Bu. Berapa harganya?”
tanyaku.
“Berapa saja, Mas”. Jawabnya datar.
Saya sebenarnya bingung, tapi cepat-cepat saya buang kebingunganku itu
lalu merogoh kocekku. Saya ambil selembar 5 ribuan, dan ingin kuberikan
langsung padanya. Tapi sebelum uang saya berikan, si pemilik warung
berkata lagi, “Uangnya ditaruh di atas situ saja, Mas”. Sambil menunjuk
dagangan gorengannya.
Kini perempuan itu berdiri di belakang tumpukan karung beras setinggi
perutnya, dengan kepalanya terus menunduk. Saya taruh selembar uang 5
ribuan itu, lalu segera permisi pergi. Tak lupa saya ucapkan terima
kasih pada wanita itu, meski dia tetap diam tak menjawab.
Selepas dari warung tak sengaja saya lemparkan pandangan pada
sekeliling. Ketika saya perhatikan jalan, orang-orang yang tadi kami
lewati, semua tidak kelihatan wajahnya alias kepala mereka semua
tertunduk.
Barulah kami menyadari keanehan yang tadi belum terpikirkan, yakni semua
orang di kampung ini menundukkan kepalanya seolah menyembunyikan wajah
mereka. Dan anehnya lagi, kami tidak merasa merinding atau takut meski
kami sudah mengerti kalau sedang berada di dunia lain.
Akhirnya, kamipun melanjutkan jalan mengikuti jalan kecil. Sampai
kemudian, kampung aneh itu terlewati dan kami bertemu jalan yang yang
mengarah ke Kali Tempuk, dan benar kali ini tidak lagi bercabang alias
jalan tunggal.
Lega rasanya karena tampak di depan adalah deretan warung-warung meski
sudah tutup. Setelah sampai pada Palenggahan Agung kami langsung ke
mobil mengambil HP yang sengaja tidak kami bawa kecuali kamera digital
saja untuk mengambil gambar di Kali Tempuk tersebut. Keanehan kembali
membuat kami saling berpandangan setelah tahu dari HP bahwa waktu sudah
menujuk pukul 03.40 WIB. Semakin pening memikirkan kejadian yang aneh
ini.
Sambil duduk-duduk di pinggir mobil, seorang temen yang tadi kebagian
membawa bungkusan pisang goreng yang saya beli di warung perempuan aneh
itu yang di taruh di ranselnya. Anehnya, dia tidak menemukan plastic
bungkusan pisang goreng tadi, yang ada hanyalah bungkusan daun jati. Dia
buka bungkusan itu, ternyata didalamnya ada 10 lembar daun kering dan
selembar uang 5 ribuan yang tadi saya bayarkan di warung wanita yang
aneh itu.
Saya ceritakan pengalaman yang aneh itu kepada Pak Marji esok paginya,
sang kuncen Alas Ketonggo. Dia mengeryitkan dahi, Pak Marji mengatakan.
“Kalian sudah tersesat di kampungJin, untungnya jin-jin di kampung itu
tidak atau jarang mencelakai manusia, atau mungkin kalian masih bisa
menjada adab di Alas Ketonggo ini”. Kata Pak Marji setenggah bergumam.
Begitulah cerita tersesatnya kami di kampung jin Alas Ketonggo. Sampai
akhirnya kami bertiga kembali dengan selamat. Dari kisah yang saya tulis
kali ini, ada pelajaran yang bisa saya petik adalah, kemanapun pergi,
jangan lupa berdzikir, agar selalu mendapat perlindungan Nya. Jadi bukan
masalah permisi atau tidak. Atau mungkin besarnya rasa penasaran kami,
sehingga kami diberi petunjuk. Akhir kata. Sekian dulu dan wasssalam.
Matur nuwun..
--------------
Kisah yang serupa.....
SEPOTONG CERITA DARI ALAS KETONGGO
SEPOTONG CERITA DARI ALAS KETONGGO
Wilayah Kabupaten Ngawi sebenarnya kaya akan potensi tempat wisata yang
bisa diperdayakan. Satu di antaranya adalah Alas Ketonggo. Tempat ini
adalah hutan dengan luas 4.846 meter persegi, yang terletak 12 KM arah
selatan dari Kota Ngawi, Jawa Timur. Menurut masyarakat Jawa, Alas
Ketonggo ini merupakan salah satu dari alas angker atau ‘wingit’ di
tanah Jawa. Kepercayaanya, di tempat ini terdapat kerajaan makhluk
halus. Sedangkan satu hutan lainnya yang juga dianggap angker adalah
Alas Purwa yang terletak di Banyuwangi, Jawa Timur. Alas Purwa disebut
sebagai Bapak, sedangkan Alas Ketonggo disebut sebagai Ibu. Kawasan Alas
Ketonggo mempunyai tempat pertapaan, di antaranya Palenggahan Agung
Srigati.
Eyang Srigati adalah Priyagung, seorang begawan dari Benua Hindia yang
datang ketanah jawa. Beliaulah yang menurunkan Kerajaan-kerajaan di
Indonesia mulai dari Pajajaran, Majapahit, Mataram dan seterusnya. Semua
kisah Spiritual tertuang di Punden Srigati yang terdapat di desa
Babatan kec. Paron. Kab. Ngawi.
Hutan Ketonggo, demikian sebutan masyarakat Ngawi untuk hutan yang
terletak 12 kilometer arah selatan Kota Ngawi itu. Meski sebetulnya sama
dengan hutan-hutan lainnya, namun Ketonggo lebih kesohor dibanding
hutan-hutan lain di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Apa yang membuat
Ketonggo termasyhur? Sampai-sampai kesebelasan perserikatan Ngawi yakni
Persatuan Sepak Bola Ngawi (Persinga), dijuluki “Laskar Ketonggo”?
Lokasi Pesanggrahan Srigati yang terletak 12 km arah barat daya Kota
Ngawi, tepatnya di Desa Babadan Kecamatan Paron, dapat ditempuh dengan
berbagai macam kendaraan bermotor. Pesanggrahan Srigati merupakan obyek
wisata spiritual yang menurut penduduk setempat adalah pusat keraton
lelembut / makhluk halus. Dilokasi ini terdapat petilasan Raja
Brawijaya. Pada hari-hari tertentu seperti Jum’at Pon dan Jum’at Legi
pada bulan Syuro, Pesanggrahan Srigati banyak dikunjungi oleh para
pesiarah untuk menyaksikan diselenggarakannya upacara ritual tahunan
“Ganti Langse” sekaligus melaksanakan tirakatan / semedi untuk ngalap
berkah.
Orbitasi :
Dengan ruas jalan Kabupaten Kecamatan Paron 6 Km
Dengan ruas jalan Provinsi Km 6 ( Ngawi – Solo )
Dengan Kota Ngawi 12 Km
Terdapat legenda seputar keberadaan alas Ketonggo. Konon tempat ini
dulunya adalah tempat peristirahatan Prabu Brawijaya V setelah lari dari
kerajaan Majapahit karena kerajaan diserbu oleh bala tentara Demak
dibawah pimpinan Raden Patah.
Dikisahkan, ditempat itulah dalam perjalananya ke Gunung Lawu, Prabu
Brawijaya V melepas semua tanda kebesaran kerajaan (jubah, mahkota, dan
semua benda Pusaka), namun kesemuanya raib atau mukso. Petilasan Prabu
Brawijaya V ini ditemukan mantan Kepala Desa Babadan, Somo Darmojo (alm)
tahun 1963 berupa gundukan tanah yang tumbuh setiap hari dan mengeras
bagaikan batu karang. Kemudian tahun 1974 didatangi Gusti Dorojatun IX
yang menyatakan bahwa petilasan tersebut bagian dari sejarah Majapahit
dan petilasan tersebut diberi nama Palenggahan Agung Srigati.
Palenggahan Agung Srigati ini terdapat berbagai benda-benda yang secara
simbolik melambangkan kebesaran Kerajaan Majapahit, baik berupa mahkota
raja, tombak pusaka, gong, dan lain-lainnya.
Di dalam ruangan ini sangat pekat aroma dupa dan wangi bunga, hal yang
sangat wajar kita temukan di sebuah tempat sakral. Dupa dan taburan
bunga ini berasal dari para pengunjung. Mbah Marji (juru kunci)
menerangkan bahwa ”Gundukan tanah tersebut biasanya terus tumbuh dan
bertambah tinggi, tapi pada saat tertentu tidak tumbuh,” terangnya.
Gundukan tanah tersebut bisa dipercaya dijadikan pertanda pada bumi
Indonesia.
Keberadaan Pesanggrahan Srigati-sebuah obyek wisata spiritual di
Ketonggo merupakan sebab utama kemasyhuran hutan seluas 4.846 meter
persegi itu. Kepercayaan masyarakat yang menganggap Ketonggo sebagai
pusat keraton lelembut atau makhluk halus, dikukuhkan dengan banyaknya
tempat-tempat pertapaan yang mistik dan sakral. Menurut catatan, di
Ketonggo terdapat lebih dari 10 tempat pertapaan. Mulai dari
Pesanggrahan Agung Srigati, Pundhen Watu Dhakon, Pundhen Tugu Mas, Umbul
Jambe, Pundhen Siti Hinggil, Kali Tempur Sedalem, Sendang Drajat,
Sendang Panguripan, Sendang Mintowiji, Kori Gapit, dan Pesanggrahan
Soekarno.
Memasuki hutan Ketonggo, para tamu langsung dapat melihat Pesanggrahan
Agung Srigati, berupa sebuah rumah kecil berukuran 4×3 meter. Di
dalamnya terdapat gundukan tanah, yang dari hari ke hari terus tumbuh,
sehingga makin lama makin banyak. Dinding rumah itu dikitari bendera
panjang Merah-Putih. Khas tempat sakral, Pesanggrahan Srigati pekat
dengan bau dupa. Di sekitar tanah, yang terlindung atap rumah itu, juga
berserakan bunga tabur yang selalu disebarkan para tamu.
“Seperti pada saat terjadi krisis moneter 1997, sebelumnya gundukan
tanah tersebut tidak tumbuh, sehingga sama sekali tidak ada gundukan
yang menyembul ke permukaan,” Mbah Marji mengisahkan sebelum terjadi
semburan lumpur Lapindo Sidoarjo, dan gelombang Tsunami Aceh, gundukan
tanah tersebut terlihat ‘cekung’, katanya, sembari mengungkapkan bahwa
tanah itu selalu dibawa tamu yang bertapa di situ, sehingga selalu
berkurang sedikit demi sedikit.
Pada hari-hari tertentu, seperti Jumat Pon dan Jumat Legi, serta pada
bulan Suro dalam kalender Jawa, ribuan masyarakat Jawa maupun luar Jawa
mendatangi tempat ini berbondong-bondong ke pesanggrahan ini untuk
merenung, tirakat dan berdo’a pada Sang Khaliq.. Pada saat-saat yang
dianggap keramat itu, warga berdoa dan bertapa untuk meminta berkah.
Baik itu berkah karier atau jabatan, keselamatan, kesehatan, jodoh, dan
sebagainya.Seperti pengakuan Iwan (38) warga Purwokerto, Jawa Tengah.
”Saya di sini sudah 4 bulan untuk merenung dan mencari petunjuk tentang
jati diri ,” tuturnya.
Tak hanya di Srigati. Beberapa lokasi sakral lain di Ketonggo, juga
diyakini dapat mengantarkan mereka menuju cita-cita yang diinginkan.
Misalnya, mandi di Kali Tempur Sedalem, sebuah sendang yang merupakan
pertemuan dua sungai, dan sesudah itu memanjatkan doa di tugu di
dekatnya, diyakini harapannya akan dapat terwujud. Adapun Pesanggrahan
Soekarno, disebut demikian karena konon Presiden pertama RI Ir Soekarno
pernah bertapa di tempat itu. Dikisahkan, ada seseorang tak dikenal yang
pernah membawa foto Bung Karno yang sedang bertapa di tempat berdirinya
Pesanggrahan Soekarno sekarang ini. Orang itu membawa foto Bung Karno
bertapa tersebut, tahun 1977.
Alih Kelola Benteng Pendem Tunggu KSAD
BERSEJARAH: Benteng
Pendem yang merupakan objek wisata sejarah masih menjadi jujukan
wisatawan dalam dan luar daerah. (Asta Yanuar/Jawa Pos Radar Lawu)
”Yang jelas, kami sudah mengajukan izin prinsip sesuai jalur,” kata Komandan Yon Armed 12 Letkol Arm Ayi Yosa Karna Wijaya kepada Jawa Pos Radar Lawu Selasa (21/4). Dijelaskan, secara umum, tahapan pengajuan izin prinsip sudah berjalan sesuai jalur. Yakni, dari satuan militer batalyon di Ngawi, naik ke resimen, divisi, Kostrad, lalu yang terakhir KSAD.
Menurut Yosa, secara kesatuan, pengajuan izin prinsip yang menjadi kewenangannya sudah ditunaikan. Menurut pria yang gemar bermain woodball itu, pihaknya juga aktif menanyakan proses izin ketika masih berada di meja Pangkostrad. ”Ketika bertemu dengan beliau (Pangkostrad, Red), kami sering meminta agar pengajuan izin tersebut segera dinaikkan ke KSAD,” terangnya.
Kini, papar dia, pihaknya sebatas menunggu pengajuan izin prinsip ke KSAD segera ditanggapi. Pengelolaan seperti yang diinginkan pemkab bakal mendapat lampu hijau jika pengajuan izin tersebut disetujui KSAD. Disinggung soal cara alternatif untuk mempercepat pengajuan izin prinsip di KSAD, Yosa mengisyaratkan bahwa Pemkab Ngawi harus melakukan pendekatan terhadap KSAD.
Pemkab, khususnya Bupati Ngawi Budi ”Kanang” Sulistyono, harus melakukan komunikasi langsung dengan KSAD. Itu bisa dilakukan ketika KSAD berkunjung ke Jawa Timur. Bisa juga, saat berada di Jakarta, bupati menyempatkan diri bertemu dengan KSAD.
Yosa juga menyatakan terus memonitor proses izin ke Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Itu terkait dengan fisik bangunan bersejarah yang didirikan pada zaman penjajahan Belanda tersebut. ”Sambil menunggu izin prinsip, kami juga memantau sampai mana perkembangan izin ke Kementerian PU. Itu menyangkut aset negara,” tegas dia.
Kemarin sore rombongan arkeolog meneliti Benteng Pendem. Mereka mengukur luas dan tinggi bangunan yang bakal dijadikan bangunan cagar budaya tersebut. (tyo/ota/JPNN/c11/any)
7 Tempat Simbol Kota Ngawi
Ngawi, adalah sebuah kota kecil yang terletak di sebelah barat Propinsi
Jawa Timur. Ngawi berasal dari kata 'awi' atau bambu yang kemudian
mendapat sengau 'ng' sehingga menjadi kata Ngawi. Kenapa harus bambu?
Bambu tentu mengingatkan kita akan bamboo runcing yang dipakai pejuang
jaman dulu melawan penjajah, selain itu bambu dalam Karya Sastra yang
indah juga mampu menimbulkan inspirasi pengandaian yang menggetarkan
jiwa.
Beberapa Tempat di Ngawi
Setelah tahu bahwa nama Ngawi memiliki makna yang begitu dalam, mari kita lihat 7 tempat yang menjadi simbol Ngawi.
1. Waduk Pondok
Waduk Pondok merupakan salah satu obyek yang indah dan masih alami.
Dengan luas sekitar 2596 Ha, mampu menampung air sampai dengan
29.000.000 m3, membuat Waduk Pondok seperti hamparan air yang menyerupai
danau dengan latar belakang hutan daerah perbukitan. Selain sebagai
tempat rekreasi keluarga, Waduk Pondok juga merupakan surga bagi para
pemancing. Disana banyak ditemukan berbagai jenis ikan seperti Tombro,
Tawes, Nila, Bnadeng, Patin, Udang dll.Sebuah pemandangan yang menarik
apabila malam menjelang di Waduk Pondok. Disamping itu secara berkala
diWaduk Pondok disenggarakan lomba mancing yang banyak dinikmati oleh
para pemancing. Yang lebih menarik dari obyek wisata ini adalah
dilestarikannya sebuah upacara adat yang oleh masyarakat disebut
"Nyadran/Keduk Beji Waduk Pondok" yang biasanya dilaksanakan setiap
bulan Syuro. Waduk Pondok sendiri mempunyai suatu legenda, dimana nama
Pondok bermula dari banyaknya pondok - pondok yang dibangun oleh
peziarah disekitar sumber mata air untuk melakukan ngalap berkah atau
tirakatan.
2. Benteng Van Den Bosch / Benteng Pendem
Benteng ini dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1839-1845
dengan nama Fort Van den Bosch. Terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan
Ngawi, Kabupaten Ngawi. Dulu benteng ini merupakan saksi sejarah
terjadinya pertempuran antara pasukan Diponegoro dan tentara Belanda di
Ngawi selama berkobarnya perang Jawa atau perang Diponegoro tahun
1825-1830.
3. Srigati
Dulu seorang prabu yang bernama Brawijaya meletakkan pakaian
ke-Prabon-nya di bawah sebuah pohon di Srigati setelah pergi karena
tidak mau memeluk Islam. Nah, tempat inilah yang kemudian dijadikan
tempat keramat dan dibuatkan cungkup yang berkelambu. Setiap malam
ketika purnama pada bulan Syura, diadakan upacara adat pengganti Lengse
(kelambu). Peristiwa ini selalu ramai akan pengunjung dari berbagai
penjuru dan pelosok. Aura mistis Srigati yang diembel-embeli Alas
Ketonggo seolah menjadi magnet tersendiri dan tempat itu menjadi sebuah
tempat kaul/nadhar. Hingga kini pakaian prabu Brawijaya V masih utuh dan
dalam keadaan bagus tanpa cacat dan cela berkat lumuran cairan kayu
cendana.
4. Jamus
Jamus adalah salah satu tempat wisata yang sering dikunjungi. Ternyata
tak hanya panorama kebun teh nan hijau saja yang ada di sini. Masih
banyak beberapa fasilitas hiburan yang cukup untuk menenangkan pikiran,
seperti: Obyek Agrowisata, Grojogan Songo Tuk Pakel, Bumi Perkemahan
Katilidaman, Kincir Air Pembangkit Tenaga Listrik Peninggalan Belanda,
panorama Gardupolo, Kolam Renang Anak-Anak "Sumber Lanang", dan Grojogan
Kedung Putri.
5. Museum Trinil
Museum Trinil berada di Jalan Raya Solo-Surabaya, Pedukuhan Pilang, Desa
Kawu, Kecamatan Kedunggalar ini bisa menjadi obyek wisata belajar yang
menyenangkan. Situs museum Trinil ini dalam penelitian merupakan salah
satu tempat hunian kehidupan purba pada zaman Pleistosen Tengah, kurang
lebih 1,5 juta tahun yang lalu. Situs ini amat penting sebab selain
ditemukan data manusia purba juga menyimpan bukti konkrit tentang
lingkungannya, baik flora maupun faunanya.
6. Monumen Suryo
Monumen Suryo ini berdiri di sebuah hutan jati yang dibangun untuk
menghormati Gubernur pertama Jawa Timur, Mr. Soerjo. Dia tewas dalam
kerusuhan komunis pada tahun 1948. Seperti resor wisata alam lainnya,
resor ekowisata ini juga menawarkan panorama alam yang mengatur terhadap
jati mahoni padat dan kehutanan. Selain untuk mengenang, tempat ini
juga didirikan untuk menandai 23 jenis tanaman langka yang dilindungi
oleh hukum, seperti: sawo kecik, citradora, cendana sonokeling, dan
lain2. Ada juga banyak jenis burung yang telah dibesarkan seperti:
Perkutut, Podang, Jalak, dan Bekisar.
7. Alas Ketonggo
Budaya Jawa menyimpan dan menyelinapkan tabir-tabir misteri sebagai
inspirasi spirit dan mental yang berwujud sanepan dengan makna yang
tersirat, bukan tersurat bagi generasi-nya, agar tidak lengkang oleh
perkembangan jaman. Alas Ketonggo sebagai satu contoh tempat yang
menyimpan legenda dan mitos di dalam angan-angan dan impian di dalam
pikiran, perasaan dan budi. Ada banyak masyarakat yang hanyut pengertian
dan pengetahuannya untuk meyakini dan mempercayai Alas Ketonggo dengan
makna tersurat atau lahiriah. Hingga tidak tanggung-tanggung secara
mentah menjadikan Alas Ketonggo sebagai ajang pencarian inspirasi demi
perkembangan mental dan spiritnya.
Setidaknya itulah 7 tempat yang ada di Kota Ngawi yang bisa saya suguhkan kepada pembaca.
Salam.
Sumber: Majalah Artesis Smasa Ngawi
Beberapa Tempat di Ngawi
Setelah tahu bahwa nama Ngawi memiliki makna yang begitu dalam, mari kita lihat 7 tempat yang menjadi simbol Ngawi.
1. Waduk Pondok
| Waduk Pondok |
2. Benteng Van Den Bosch / Benteng Pendem
| Benteng Pendem |
3. Srigati
| Srigati |
4. Jamus
| Jamus |
5. Museum Trinil
| Museum Trinil |
6. Monumen Suryo
| Monumen Suryo |
7. Alas Ketonggo
| Alas Ketonggo |
Setidaknya itulah 7 tempat yang ada di Kota Ngawi yang bisa saya suguhkan kepada pembaca.
Salam.
Sumber: Majalah Artesis Smasa Ngawi
ASAL MULA KOTA NGAWI
SEJARAH KABUPATEN NGAWI
I. Asal Usul Nama Ngawi.
Ngawi berasal dari kata “Awi” yang artinya Bambu yang
selanjutnya mendapat tambahan huruf sengau “Ng” menjadi
“NGAWI” . Seperti halnya dengan nama-nama di daerah-daerah lain
yang banyak sekali nama-nama tempat (desa) yang di kaitkan dengan
nama tumbuh-tumbuhan. Seperti Ngawi menunjukkan suatu tempat
yang di sekitar pinggir Bengawan Solo dan Bengawan Madiun yang
banyak ditumbuhi bambu.
II. SEJARAH HARI JADI NGAWI..
Penelusuran Hari jadi Ngawi dimulai dari tahun 1975, dengan
dikeluarkannya SK Bupati KDH Tk. II Ngawi Nomor Sek. 13/7/Drh,
tanggal 27 Oktober 1975 dan nomor Sek 13/3/Drh, tanggal 21 April
1976. Ketua Panitia Penelitian atau penelusuran yang di ketuai oleh
DPRD Kabupaten Dati Ii Ngawi. Dalam penelitian banyak ditemui
kesulitan-kesulitan terutama nara sumber atau para tokoh-tokoh
masayarakat, namun mereka tetap melakukan penelitian lewat
sejarah, peninggalalan purbakala dan dokumen-dokumen kuno.
Didalam kegiatan penelusuran tersebut dengan melalui proses sesuai
dengan hasil sebagai berikut ;
1. Pada tanggal 31 Agustus 1830, pernah ditetapkan sebagai Hari
Jadi Ngawi dengna Surat Keputusan DPRD Kabupoaten Dati II
Ngawi tanggal 31 Maret 1978, Nomor Sek. 13/25/DPRD, yaitu
berkaitan dengan ditetapkan Ngawi sebagai Order Regentschap
oleh Pemerintah Hindia Belanda.
2. Pada tanggal 30 September 1983, dengan Keputusan DPRD
Kabupaten Dati II Ngawi nomor 188.170/2/1983, ketetapan diatas
diralat dengan alas an bahwa tanggal 31 Agustus 1830 sebagai
Hari Jadi Ngawi dianggap kurang Nasionalis, pada tanggal dan
bulan tersebut justru dianggap memperingati kekuasaan
Pemerintah Hindia Belanda.
3. Menyadari hal tersebut Pada tanggal 13 Desember 1983 dengan
Surat Keputusan Bupati KDH Tk. II Ngawi nomor 143 tahun 1983,
dibentuk Panitia/Tim Penelusuran dan penulisan Sejarah Ngawi
yang diktuai oleh Drs. Bapak MOESTOFA.
4. Pada tanggal 14 Oktober di sarangan telah melaksanakan
simposium membahas Hari Jadi Ngawi oleh Bapak MM.Soekarto
2
K, Atmodjo dan Bapak MM. Soehardjo Hatmosoeprobo dengan
hasil symposium tersebut menetapkan ;
a. Menerima hasil penelusuran Bapak Soehardjo
Hatmosoeprobo tentang Piagam Sultan Hamengku Buwono
tanggal 2 Jumadilawal 1756 Aj, selanjutkan menetapkan
bahwa pada tanggal 10 Nopember 1828 M, Ngawi ditetapkan
sebagai daerah Narawita (pelungguh) Bupati Wedono Monco
Negoro Wetan. Peristiwa tersebut merupakan bagian dari
perjalanan Sejarah Ngawi pada jaman kekuasaan Sultan
Hamengku Buwono.
b. Menerima hasil penelitian Bapak MM. Soekarto K. Atmodjo
tentang Prasasti Canggu tahun 1280 Saka pada masa
pemerintahan Majapahit di bawah Raja Hayam Wuruk.
Selanjutmya menetapkan bahwa pada tanggal 7 Juli 1358 M,
Ngawi ditetapkan sebagai Naditirapradesa (daerah
penambangan) dan daerah swatantra. Peristiwa tersebut
merupakan Hari Jadi Ngawi sepanjang belum diketahui data
baru yang lebih tua.
Melalui Surat Keputusan nomor : 188.70/34/1986 tanggal 31
Desember 1986 DPRD Kabupaten Dati II Ngawi telah menyetujui
tentang penetapan Hari Jadi Ngawi yaitu pada tanggal 7 Juli 1358
M. Dan ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati KDH Tk. II
Ngawi No. 04
Tahun 1987 pada tanggal 14 Januari 1987. Namun Demikian tidak
menutup kemungkinan untuk melakukan penelusuran lebih lanjut
serta menerima masukan yang berkaitan dengan sejarah Ngawi
sebagai penyempurnaan di kemudian hari.
III. LAMBANG KABUPATEN NGAWI.
Lambang Daerah Kabupaten Ngawi ditetapkan Berdasarkan
Peraturan Daerah No. 7 Tahun 1968 pada tanggal 24 Juli 1968.
Artikulasi Warna dan Gambar :
I. Warna :
1. Warna Putih artinya : Kesucian
2. Warna Kuning artinya : Kemasyhuran
3. Warna Merah artinya : Patriotik, Kebranian
3
4. Warna Hijau artinya : Kemakmuran
5. Warna Hitam artinya : Stabilitas, Ketangguhan
II. Gambar :
1. Bintang bersudut lima :
Ø Melambangkan pancaran Berketuhanan Yang Maha
Esa.
2. Api yang menyala dengan lidahnya lima buah berwarna
kuning dan bertepi merah :
Ø Melambangkan pancaran semangat Pancasila yang
senantiasa menerangi dan menjiwai penghidupan dan
perjuangan Daerah Kabupaten Ngawi.
3. Sebuah tulang batok kepala dan tulang paha berwearna
kuning didalam lingkaran berwarna merah terletak
ditengah-tengan lambang :
Ø Melambangkan bahwa nama Ngawi dikenal dan dicatat
dalam dunia keilmuan arkeologi dengan
diketemukannya sebuah tulang batok kepala dan tulang
paha dari mahkul purba Pithecanthropus Erectus pada
tahun 1891 oleh Dr.Eugene Dubois di desa Trinil
Kecamatan Kedunggalar Kabupaten Ngawi.
4. Garis lebar melintang berlekuk-lekuk dan bergelombang
bagian atas berwarna putih dan yang bawah berwarna
kuning, dari sebelah kiri menuju ketengah dan dari
sebelah kanan menuju ketengah lalu bertemu menjadi
satu :
Ø Melambangkan bahwa Ibu Kota daerah Kabupaten
Ngawi terletak didaerah pertemuan dua buah sungai
(bengawan Solo berwarna putih dan Bengawan Madiun
berwarna kuning).
5. Kelompok pepohonan berwarna hijau :
Ø Melambangkan bahwa daerah Kabupaten Ngawi dikenal
dengan daerah hutan jati yang memberikan hasil
kemakmuran.
4
6. Tulisan NGAWI terletak pada dasar berwarna putih
bagian kanan dan kiri berlekuk dan melengkung di
bagian tengahnya :
Ø Melambangkan Wilayah Daerah Kabupaten Ngawi terdiri
daerah pegunungan (kendeng) dan lereng Gunung
(lawu) serta dataran rendah.
7. Padi dan Kapas berwarna kuning dan putih di bagian
samping kanan dan kiri dari kedua sudut bintang:
Ø Melambangkan bahwa berkat ketaqwaan kepada Alloh
SWT membawa masyarakat Kabupaten Ngawi kepada
ketahanan dan kesempurnaan di bidang pangan,
sandang bagi kemakmuran yang adil dan merata.
8. Perisai sebagai latar belakang dari lambang berwarna
hitam dan bertepi merah dengan didalamnya terdapat
padi dan kapas masing-masing berjumlah tujuh belas,
pohon jati berjumlah delapan batang dan lekuk daun
jati berjumlah empat puluh lima ;
Ø Melambangkan semangat pertahan yang patriotic
bagi ketangguhan dan stabilitas Daerah Kabupaten
Ngawi yang merupakan bagian dari Negara
Republik Indonesia.
Garis lebar berlekung 4.
1. Bintang
2. Api
5
IV. PENINGGALAN SEJARAH, SENI DAN BUDAYA.
A. Sejarah ;
Selain penemuan benda-benda bersejarah di wilayah sekitar
Ngawi juga terdap tempat-tempat sejarah yang cukup terkenal
yaitu Jagara, Alas Ketangga dan Tawun. Dalam penelitian
diperkirakan ketiga tempat tersebut berhubvungan dengan
daerah di sekitar Ngawi.
1. Sejarah Negara Jagaraga.
Negara Jagaraga adalah suatu daerah yang terletak di
lereng Gunung Lawu dan disebelah selatan pegunungan
Kendeng. Jagaraga berasal dari kata (jaga=waspada,
raga=tubuh). Di dalam buku Valentijn menyebutkan daeah
Jagaraga (het landschap Jagaraga) dengan kotanya
bernama (de staad Jagaraga), terletak di daerah antara
gunung lawu dan Kali Semanggi (sekarang bernama
bengawan Solo), sedangkan Dr. NJ.Krom menyebutkan
letak Jagaraga di daerah Madiun. Nama Jagaraga tersebut
dalam prasasti tembaga Waringin Pitu yang diketemukan di
Desa Suradakan (Kabupaten Trenggalek) sekitar tahun
1369 Saka (1474 M). Serta buku Pararaton (terbit tahun
1613 m).
3. Tulang tengkorak dan
tulamg paha
Kelompok pepohonan 5.
Tulisan NGAWI 6.
7. Padi dan Kapas.
8. Perisai
6
Prasasti tembaga Waringin Pitu dikeluarkan oleh Raja
Widjayaparakramawardhana (Dyah Kerta Wijaya) pada
tahun 1369 Saka atau tepatnya 22 November 1474 m.
Prasasti ini menyebutkan tentang penguasa di Jagaraga
(paduka Bhattara ring Jagaraga) bernama Wijayandudewi
sebagai nama penobatan (nama raja bhiseka) atau
Wijayaduhita sebagai nama kecil (Garbhapra Sutinama),
seorang puteri yang mengaku keturunan Raden Wijaya.
(Kertarajasa Jayawardhana) pendiri Kerajaan Majapahit,
Prasasti ini juga memuji raja puteri (ratu) Jagaraga dengan
deretan kalimat (ansekerta) yang indah dan menurut
terjemahan Mr.Moh.Yamin adalah sebagai berikut ;
“Perintah Sang Parbu diiringi pula oleh Seri Paduka Batara
Jagaraga” ;
- Nan bertingkah laku lemah lembut gemulai dan
utama sesuai dengan kesetiaan kepada suaminya”.
- Nan dibersihkan kesadaran yang utama dan tidak
bercacat, yang kaki tangannya dihiasi perhiasan
utama, yaitu tingkah laku penuh kebajikan.
- Nan berhati sanubari sesuai dengan kenangkenangan
yang tidak putus-putusnya kepada suami.
2. Sejarah Negara Matahun.
Oleh para Sarjana wialayah di sebelah Barat Jagaraga di
seberang bengawan Sala di perkirakan wilayah kekuasaan
Negara Matahun , ini meliputi daerah atau Desa Tawun
yang saat sekarang ini di wilayah Kecamatan Padas
Kabupaten Ngawi yang terkenal dengan sendang bulusnya.
Menurut prasasti Waringin Pitu, Raja Matahun bernama
Dyah Samara Wijaya yang bergelar Wijayaparakrama, tetapi
menurut Prasasti Kusmala (batu tilis dari Kandangan, Pare
Kediri) berangkat tahun 1272 Saka atau 1350 M, yang
menjadi Raja Matahun adalah Paduka Bhatara Matahun)
adalah Sriwijayarajasa nantawikrama tunggadewa, yang
dikatakan telah berhasil membuat sebuah tanggul kokoh
kuat dan indah (Rawuhan atita durgga mahalip), sehingga
menyebabkan kegembiraan semua penduduk.
7
3. Alas Ketangga.
Sebagian masyarakat, Alas Ketangga dikaitkan dengan
“Jangka Jayabaya” . Oleh Dr. J.Brandes dalam
karangannya yang berjudul “Lets Over een ouderen
Dipanagara in verband met een
prototype van de voorspellingen van Jayabaya”. Dalam
karangannya menyebutkan bahwa sebua naskah Jawa
dimulai dengan kalimat yang berbunyi ;
“Punika serat jangka, cariosipun prabu Jayabaya ing
Moneng, nalika katamuan raja pandita saking Erum,
nama Maolana Ngali Samsujen”. (Ini kitab ramalan , cerita
Raja Jayabaya di Momenang pada waktu menerima tamu
raja pendeta dari Erun, bernama Maolana Ngali Samsujen).
Setelah itu disinggung nama kitab Musarar (Kitab Hasrar :
boek dergeheimenissen), yang berisi lamaran di seluruh
dunia (jangkaning jagad sedaya); dan diteruskan dengan
menyebut nama beberapa orang raja dan kerator dan juga
beberapa ramalan apabila diterjemahkan kedalam bahasa
Indonesia anatara lain sebagai berikut :
“Ada yang bernama Raden Amisan, menobatkan Ratu
Adil, dari tanah Arab, menguasai seluruh dunia, Radem
Amisan bernama Sultan Erucakra, waktu itu berhentilah
kekacauan Negara.
B. Seni dan Budaya ;
Kebudayaan daerah di Kabupaten Ngawi telah mengalami
pengikisan tanpa terasa, mengikuti kondisi dan situasi serta
pengaruh dari daerah sekitarnya bahkan dari luar daerah,
namun demikian seni dan budaya yang sampai saat ini masih
selalu di kenang dan di lestarikan adalah sebagai berikut ;
1. Seni Gaplik
Kesenian Gaplik berasal dari Desa Kendung Kecamatan
Kwadungan Kabupaten Ngawi, keseniaan ini mempunyai
maksud dan tujuan mengusir bala (mala petaka) yang
melanda desa. Nama Gaplik diambil dari nama orang yang
telah menciptakan dan mengembangkan kesenian tersebut
.Kesenian Gaplik dilaksanakan tiap tahun sekali, pada saat
dilakukan “bersih desa” didesa yang bersangkutan, yaitu
masa sehabis panen, didahului dengan upacara di
8
makam,dilanjutkan pentas kesenian Gaplik pada malam
harinya, di halaman rumah Kepala Desa.
a. Latar Belakang.
Di desa kendung pernah terjadi mala petaka, penduduk
banyak yang sakit dan meninggal, tanaman diserang
hama,di rampok atau dicuri. Pada saat itu ada seorang
penduduk yang kesurupan ( kemasukan Roh
),mengatakan bahwa desa akan
aman tentram bila diadakan keramaian dengan
pementasan“ Badut “ dan “ Tandak “(penari wanita) di
punden ( makam Desa kendung ).
b. Bentuk Kesenian
Merupakan pagelaran berbentuk arena terbuka, antara
pemain dan penonton saling berdekatan sehingga
menimbulkan komunikasi langsung dan lancar antara
pemain dan penonton, berdialog sambil berdiri.
c. Gerak dan Perwujudan kesenian
Para pemain terdiri dari seorang pria dan seorang wanita
sebagai peran utama, ditambah pelengkap seorang
sebagai peran anak. Pertunjukan diawali dengan
tandak/ penari gamyong.
- Peran Pria berpakaian seperti punakawan “Gareng”
dalam pewayangan, mengenakan topi serdadu
(Prajurit), membawa bilah bamboo sepanjang 1
meter. Tata rias wajah lucu dan menyolok. Tokoh ini
selain melakukan gerak humor juga dialog sesuai
dengan permasalahan yang ingin disampaikan
kepada masyarakat.
- Peran wanita, mengenakan kain kebaya, dengan tat
arias menarik dan menawan. Melakukan dialog
tentang kehidupan rumah tangga.
- Peran anak sebagai pelengkap, sekaligus
menyempurnakan suasana.
- Pertunjukan diiringi gending- gending jawa (
karawitan ) berirama dinamis.
9
Kesenian Gaplik yang semula dimaksudkan untuk
penolak bala,dalam perkembangannya
dimanfaatkan sebagai saran komunikasi antara
Pemerintah dan masyarakat,utamanya
menyampaikan informasi pembangunan dan
meningkatkan gairah berpartisipasinya masyarakat
terhadap pembangunan.
2. Upacara Adat Tawun
Dilaksanakan di Desa Tawun Kecamatan Padas, yang
terkenal dengan Sendang ( kolam alam ) keramat.
Dilaksanakan tiap tahun sekali ,hari selasa kliwon setelah
panen, sehabis gugurnya daun jati.
a. Latar Belakang
Sekitar abad 15, seorang pengembara bernama Ki
Ageng Tawun menemukan sendang, yang oleh
masyarakat setempat disebut Sendang Tawun. Disekitar
sendang itu Ki Ageng Tawun beserta keluarganya hidup
tentram;dan menggunakan sendang tersebut untuk
hidup sehari- hari ( mandi, masak, dan pertanian )
Ki Ageng mempunyai 2 putera Raden Lodojoyo dan
Raden Hascaryo, yang masing- masing mempunyai
perjalanan sebagai berikut:
- RADEN LODROJOYO
Mempunyai kegemaran berendam di sendang. Pada
suatu malam, malam Jum’at Legi, sekitar pukul
24.00, terdengar suara ledakan keras sehingga
membangunkan warga masyarakat setempat.
Raden Lodrojoyo yang sedang berendam seketika
menghilang, dan sendang pun yang semula berada
di selatan, pindah ke sebelah utara.Ki Ageng dan
masyarakat mengadakan pencarian Raden
Lodrojoyo di dalam sendang tersebut, sampai
dengan Hari Selasa Kliwon tapi tidak diketemukan.
- RADEN HASCARYO
10
Raden Sinorowito adalah putera Sultan Pajang yang
telah dating mengabdi kepada Ki Ageng Tawun.
Raden Sinorowito inilah yang kemudian yang
mengajak Raden Hascaryo menghadap dan
mengabdi kepada Sultan Pajang. Pada waktu terjadi
peperangan antara Pajang- Blambangan, Raden
Hascaryo diangkat sebagai Senopati Pajang. Oleh
Ki Ageng Tawun, Raden Hascaryo diberi Cinde
pusaka dan karena pusaka inilah maka puteranya
memperoleh kemenangan. Pada saat Raden
Hascaryo berperang melawan Blambangan, Ki
Ageng sakit keras dan akhirnya wafat, dimakamkan
disekitar sendang. Sampai sekarang makam
tersebut masih terpelihara.
b. Bentuk Upacara
Merupakan upacara bersih Desa, dengan membersihkan
Sendang Tawun dari berbagai macam kotoran, Lumpur
dan sampah sehingga air menjadi bening kembali.
Dipimpin oleh dua juru selam yang berpakaian sepasang
penganten, yang didahului penyajian sesaji
mengucapkan doa. Upacara adapt ini terdiri dari
serangkaian berbagai kegiatan diiringi gending- gending
Jawa (Karawitan). Bukan saja untuk mengungkapkan
rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa, sekaligus
mengenang masa kehidupan dan peranan Ki Ageng
Tawun beserta keluarganya.
c. Perwujudan upacara adapt.
1. Sesaji yang disejiakan terdiri dari 30 macam, termasuk
12 ekor panggang kambing, yang sebelum disembelih
dimandikan dulu di sendang 3 kali.
2. Juru selam dengan pakaian kebesarannya melakukan
penyelaman sambil membersihkan sendang, diikuti
oleh penduduk yang lain (tanpa menyelam) dan
dilanjutkan dengan kegiatan lainnya seperti ;
Ø Sekelompok orang berjalan melintasi sendang dari
timur ke barat dengan membawa tumpeng.
Ø Perebutan tumpeng dan makan bersama.
Ø Penuangan air tape ke sendang sebagai penjernih
air.
11
Ø Permainan pecut (sebatang ranting kecil panjang)
berpasang-pasangan sasaran lutut kebawah,
sebagai ungkapan latihan perang antara prajurit
dengan senopati.
Ø Tarian bersama sebagai penutup upacara bersih
desa.
3. Tari Orek-orek.
Tari ini sebenarnya berasal dari daerah Jawa Tengah yang
kemudian di kembangkan di Kabuapten Ngawi.
- Bentuk Kesenian ;
Merupakan tarian dengan gerak dinamis dengan pemain
terdiri dari pria, wanita berpasangan. Menggambarkan
muda mudi masyarakat desa yang sehabis kerja berat
gotong royong, melakukan tarian gembira ria untuk
melepaskan lelah.
3. Gerak kesenian ;
Dapat dilakukan oleh sepasang muda-mudi atau beberapa
pasang secara masal. Tat arias dan kostum meriah dan
menarik sehingga menggambarkan keadaan muda-mudi
desa yang tangkas dan dinamis.
4. Tari Penthul Melikan.
Tari ini berasal dari Desa Melikan Tempuran Kecamatan
Paron, dimaksudkan untuk menghibur masyarakat Desa
pada upacara hari-hari besar. Sebagai rasa syukur dan
ungkapan gembira masyarakat desa yang telah berhasil
membangun sebuah jembatan, masyarakat sepakat untuk
membuat suatu tontonan/hiburan yang menarik dan lucu.
Sesuai dengan keadaan masyarakat pada waktu itu yang
serba mistik, mempunyai keyakinan dan kepercayaan
tentang kemampuan indra keenam yang memungkinkan
seseorang berkomunikasi dengan masa lampau. Adapun
pencipta Tari Penthul Melikan adalah ;
1. Kyai Munajahum, seseorang guru Torikhoh akmaliyah
(aliran kebatinan Islam).
2. Hardjodinomo, seorang guru Torikhoh akmaliyah,
sekaligus mempunyai kedudukan sebagai Pamong Desa
12
(kamituwa), pejuang kemerdekaan RI, berpendidikan
Pondok pesantren dan mempunyai keahlian sebagai
tukang pijat.
3. Syahid, seorang tokoh masyarakat berpendidikan HIS.
4. Yanudi, seorang goro Torikhoh akmaliyah, tidak
bersekolah dan sebagai pejuang kemerdekaan RI.
4. Bentuk Kesenian.
Bentuk tarian yang berfungsi sebagai media hiburan
dan media pendidikan. Para pemain mengenakan
topeng terbuat dari kayu, melambangkan watak
manusia yang berbeda-beda tetapi bersatu dalam
kerja. Diiringi dengan gending jawa yang sedikit
mendapat pengaruh reog ponorogo. Gerak tarian
diarahkan sebagai lambang menyembah kepada
Tuhan Yang Maha Esa, dan mengajak manusia untuk
hidup bersatu demi terwujudnya suasana aman dan
damai.
- Gerak Kesenian
Gerak tarian berbentuk barisan setengah lingkar dan
setiap gerakan mengandung makna ;
T Tangan mengacungkan telunjuk keatas artinya itu
Esa dan matahari itu satu. Matahari adalah
ciptaan Tuhan yang sangat bernilai bagi
kehidupan manusia.
T Dua tangan mengadah ke depan, artinya ajakan
untuk maju dalam menyembah kepada Tuhan dan
maju dalam bekerja.
T Tangan mengacungkan jari telunjuk diatas kepala
dengan gerakan melingkar artinya ; jagad raya,
matahari rembulan itu berbentuk bulat, suatu
bentuk yang sempurna.
T Tangan dirangkai artinya hidup bermasyarakat
harus bersatu dan saling talang menolong.
T Dua tangan mengembang di depan hidung artinya
kegunaan dan peran dari pernafasan dalam
torikhoh akmaliyah adalah cukup penting.
13
T Telunjuk menunjuk kedepan artinya piwulang
tersebut merupakan piwulang yang baik untuk
mengalahkan nafsu angkara murka.
T Dua tangan yang mengembang diatas kepala
artinya kegembiraan berhasil mencapai
tujuan.
V. PENINGGALAN ZAMAN ARKEOLOGI KLASIK.
a. Kepurbakalaan Trinil
Kepurbakalaan Trinil terletak di Dukuh Pilang, Desa Kawu,
Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi. Berjarak kurang
lebih 14 Km dari Kota Ngawi kea rah Barat daya pada Km 11
jalan raya jurusan Ngawi Solo terdapat pertigaan belok kekanan
arah utara menelusuri jalan beraspal sepanjang 3 Km menuju
Museum Trinil dan sekitarnya. Pada sudut tenggara di halaman
museum berdiri monument yang didirikan oleh EUGENE
DOUBIS yang menunjukkan posisi temuan Pithecanthropus I
pada tahun 1891/1893.
Sejarah penelitian Palacoanthropologi di Indonesia. :
Penelitian ilmiah tentang fosil manusia dikelompokkan menjadi 3
tahap :
Tahap I tahun 1889 – 1909.
Tahap II tahun 1931 – 1941
Tahap III tahun 1952 sampai sekarang.
1. Penemuan dan penelitian fosil manusia Purba tahap I
dikalukan oleh Van Rietroboten dan Eugene Debois di wajak
dekat campur darat Tulungagung pada tahun 1889 dan
1890, manusia disebut Homo Wajakensis.
Pernemuan berikutnya di daerah Trini Ngawi mulai tahun
1890 – 1907 berupa gigi geraham, atap tengkorak dan
lainnya, milik
Pithecanthropun erectus. Kemudian tahun 1907 – 1908
Nj.Selenka mengadakan penyelidikan dan penggalian di
Trinil tidak menemukan fosil manusia tetapi banyak
menemukan fosil hewan dan tumbuhan, sehingga berguna
dalam memahami lingkungan plestosin tengah di daerah
tersebut.
14
2. Penemuan dan Penelitian manusia Purba tahap II tahun
1931-1933 oleh Ter Haar, oppenoorth dan Von Koenigswald
menemukan sejumlah besar tengkorak dan tulang kering
Pithecanthropus Soloensis di Ngandong. Kabupaten Blora.
Selanjutnya tahun 1936 Tjokrohandojo di bawah pimpinan
Dufyes menemukan Mojokertensis. Tahun 1936 – 1941
dilakukan penyelidikan di daerah Sangiran Surakarta oleh
Von Koenigswald, penemuannya berupa Pithecanthropus
Erctus dan Meganthropus Palacojavanicus.
3. Penyelidikan Tahap III mulai tahun 1952 di daerah Sangiran
menemukan PithecanthropusSoloensis, kemudian di
Sambung Macan Sragen dan lainnya.
Hasil penelitian Tahap I disimpan di Leiden Belanda
Hasil penelitian Tahap II disimpan di Frankfurt Jerman.
Hasil penelitian Tahap III disimpan di laboratorium
Palacoantropologi Yogyakarta Indonesia.
b. Manusia Trinil
Lokasi di Dukuh Pilang, Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar,
Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Lokasi ini merupakan salah satu
tempat hunian manusia masa Plestosin tengah kurang lebih 1
juta tahun yang lalu, ditemukan manisia purba serta fauna dan
flora.
1. Tahun 1890 Eugene Dubois menemukan gigi geraham
Pithecanthropus erectus yang diberi kode Trinil I.
2. Tahun 1891 ditemukan atap tengkorak diberi kode Trinil 2
menunjukkan ciri – ciri makhluk setengah manusia setengah
kera yaitu volume otaknya 900 cc. Bentuk dahi menonjol
dan belakangnya dibatasi penyempitan yang menyolok,
tulang kepala bagian bawah tempat pelekatan otot – otot
tengkorak luas menunjukkan makhluk ini otaknya belum
berkembang, gigi geraham alat kunyah besar dan kuat.
3. Tahun 1892 menemukan tulang paha kiri diberi kode Trinil 3
diduga merupakan milik perempuan dengan tinggi 168 cm.
Batang tulang tulang lurus tempat pelekatan sangat nyata
yang menunjukkan makhluk tersebut berdiri tegak, oleh
15
Eugene Dubois dinamakan Pithecanthropus erectus.
Menurut Darwin merupakan “ Missing Link” atau rantai
penghubung antara manusia dan binatang leluhurnya yang
hilang berdasarkan teori evolusi manusia. Pendapat Eugene
Dubois dalam karangannya yang pertama berjudul Java
tahun 1894, Namun penelitian yang dilakukan oleh T. Yakop
terhadap tulang paha menunjukkan ada persamaan dengan
tulang manusia sekarang dan menyebutkan Homo Erectus.
4. Tahun 1900 ditemukan Fragmen tulang oleh Eugene Dubois
diberi kode Trinil 4,5,6, dan 7.
Trinil 4 adalah tulang paha kanan.
Trinil 5 adalah batang tulang paha kiri tanpa ujung.
Trinil 6 sama dengan Trinil 4 dan Trinil 7 adalah fragmen
tulang paha kanan diduga pasangan dari Trinil 5 karena
bentuk dan lebar yang sama. Dari penemuan fosil – fosil
tulang paha dapat diketahui bahwa tinggi tubuh
pithecanthropus erectus berkisar antara 160 cm hingga 170
cm dan berat badannya sekitar 104 kg. semula Eugene
Dubois mengemukakan dugaan bahwa umur manusia Trinil
atau Pithecanthropus erectus hidup pada jaman Plestosin
awal. Unsur tulangnya berganti dengan mineral terutama
calsium fosfat dan calsium karbonat. Pada fosil terdapat
unsure fluor merupakan fosil masa plestosin.
16
Fragmen Manusia Trinil di Desa Kawu Kecamatan
Kedunggalar
c. Fauna dan Flora Trinil
Tahun 1907 – 1908 H. Eleonare selenka melaksanakan
penggalian sistematis di lokasi tempat penemuan
Pithecanthropus erectus. Hasil ekskavasinya ditemukan
sejumlah besar fosil hewan yang hidup dalam masa pletosin
tengah. Temuan fosil hewan diteliti oleh Eugene Dubois, Martin
dan von Koenigswald, hasilnya dapat diketahui jenis fauna yang
hidup pada masa plestosin tengah di wilayah Trinil antara lain :
d. Primata
1. Pithecanthopus erectus Dubois
2. Pithecanthropus Soloensis
3. Pongo Pygmaesus Hoppins.
4. Symphalangus Syndoctylus Raffles.
5. Hyaobates Ofmeloch Andebert.
6. Trachypithecus Cristatus raffles
7. Nacaca Fascicalois.
e. Proboscidea
1. Stegodon trigonocephalus Martin.
2. Elephos Hysudrindicus Dubois
3. Crytomastodon Marti Von Koeningwald.
f. Ungulata
1. Rhinoceros Sondaicus Desmarst.
2. Rhinoceros Kendengidicus Dubois
3. Tapirus Of AngostusMet G.
4. Sus Magragnatus Dubois
5. Sus Brachygnatus Dubois
6. Hipopotamus sivajavanicus Dubois
7. Cervus ( Axis ) Lydekkin Martin
8. Cervus (Rusa ) Heppelaphus Cuvier.
9. Muntiacus Muntjae Kendegen sis Streunne.
10. Tragulus Konchil Raffles.
11. Doboisa Santeng Dobois.
12. Epilotobus Groeneveldtii Dobois.
13. Bebos Palaeosondaicus Dubois.
14. Bubalus Palaeoherabos Dubois.
17
15. Bubalus Sp.
g. Carnivora
1. Felis Palaeojavanicus Sterune
2. Felis Trigis Linnocus
3. Felis Pardus Linoccus
4. Felis Bengbensis Kerr
5. Paradoxurus Hermaproditus Pall.
6. Artictus Binturong Raffles
7. Viverricula Palachensis Gml.
8. Vivera div. Spec
9. Mececyon Trinilensis Streunne
10. Cuon Sangiranensis
11. Ursus Melayanos Raffles.
12. Gutra of Einerer Illeg.
13. Gutra of Sumatrana.
h. Insectivera :
1. Echinosores Sp.
i. Rodentia :
1. Sepus Negricollis Cuvier.
2. Sepus Lapes Brachyrus Hinnacus.
3. Nyantrix Sp.
4. Rhiscmys of Sumatraensis Raffles.
5. Rattus Sp.
Hasil penggalian H.Eleonare Selenka di Trinil tentang alam
tumbuhan dikatakan Julius Schuter terdapat 52 spesies
tumbuhan fosil didalam endapan lahar. Dari 52 spesies hanya
21 spesies yang masih hidup hingga kini dan 4 spesies
sekarang masih hidup di daerah Trinil.
j. Peninggalan zaman kebudayaan Jawa Hindu.
Yaitu jaman kebudayaan Jawa Hindu ketika bangsa Indonesia
sudah mengenal tulisan sampai dengan runtuhnya kerajaan
Majapahit.
Seperti peninggalan Candi dan Arca Batu.
18
1. Arca Ganesa di dukuh Pendem Desa Pucangan Kecamatan
Ngrambe.
Arca Ganeca di desa Pucangan
Kecamatan Ngrambe
2. Arca Nandi di tengah halaman SMP Ngrambe, Nandi adalah
wahana dewa Siwa, Wahana (bahasa Sansekerta) artinya
kendaraan (rinding animal).
Koleksi Arca Nandi (wahana =
kendaraan) Dewa Siwa.
19
3. Pragmen-pragmen Percandian di desa Tulakan Kecamatan
Sine, yang berupa batu Gilang.
Batu Gilang di Desa Ploso Kecamatan
Kendal.
4. Peninggalan Prasasti Batu dan Tembaga;
a. Prasasti Canggu (terbuat dari tembaga).
@ Merupakan Peninggalan jaman Majapahit pada tahun
Saka 1280 (1358 M) yaitu pada jaman Pemerintahan
Hayam Wuruk (Sri Rajasanagara) Dalam Prasasti ini
menyebutkan nama Ngawi sebagai desa
penambangan atau penyeberangan (naditira pradesa)
ataupun sebagai daerah Swatantra. Prasasti Canggu
berupa lempengan tembaga berbentuk empat persegi
panjang berukuran panjang 36,5 cm, lebar 10,4 cm.
Prasati ini seluruhnya berjumlah 11 lempengan tetapi
baru diketemukan 5 lempengen. Pada saat ini
lempengan Prasasti Cangu tersebut berada di
Museum Jakarta dengan kode E 54 C.
@ Prasasti Batu dari Desa Sine Kecamatan Sine dalam
ROD tersebut sebuah prasasti pada tahun Saka 1381
(1459 M), terdapat tulisan “Ong dana pasagira Werit
prami, Saka kala 1381” yang artinya “Ong dana
pemberian (upeti) (Dana = pemberian) Werit prami =
20
raja putri (ratu). Berdasarkan prasasti tersebut
diperkirakan Abad XIV daerah Sine termasuk wilayah
kekuasaan seorang raja puteri (ratu) dan atas
kebaikan masyarakat di daerah ini telah mendapatkan
hadiah dari ratu.
Prasasti Canggu terbuat dari tembaga
(lempeng 5) tahun - 1358M
k. Peninggalan Zaman Kuno Belanda
Peninggalan Belanda yang terkenal di Kabupaten Ngawi berupa
sebuah benteng Van de Bosch terletak di dalam Kota di pojok
timur laut, disudut pertemuan antara Bengawan Solo dengan
Bengawan Madiun.
Dibangun pada tahun 1839 – 1845 M, oleh Pemerintah Hindia
Belanda. Pada waktu itu Ngawi mempunyai kedudukan sangat
penting di bidang transportasi yaitu sebagai urat nadi lalu lintas
antara Madiun – Rembang, Surakarta – Madiun – Gersik dan
Surabaya. Untuk mempertahankan kedudukan Strategis dan
fungsi Ngawi. Pemerintah Hindia Belanda membangun sebuah
benteng pertahanan yang kemudian di sebut Benteng Van Den
Bosch, oleh masyarakat Ngawi disebut Benteng Pendem,
karena seolah olah nampak terpendam dikelilingi oleh parit yang
lebar dan dalam yang dialiri oleh air dari sungai.
Benteng Van De Bosch Peninggalan Pemerintah Hindia Belanda
di Bangun pada tahun (1839-1845).
Peninggalan Belanda yang tidak kalah pentingnya adalah jembatan
Dungus yang pernah dihancurkan Belanda untuk menghambat
masuknya tentara Jepang di Ngawi.
Jembatan Dungus yang pernah dihancurkan
oleh Belanda untuk menghambat masuknya
tentara Jepang.
Langganan:
Komentar (Atom)








