Ngawi, adalah sebuah kota kecil yang terletak di sebelah barat Propinsi
Jawa Timur. Ngawi berasal dari kata 'awi' atau bambu yang kemudian
mendapat sengau 'ng' sehingga menjadi kata Ngawi. Kenapa harus bambu?
Bambu tentu mengingatkan kita akan bamboo runcing yang dipakai pejuang
jaman dulu melawan penjajah, selain itu bambu dalam Karya Sastra yang
indah juga mampu menimbulkan inspirasi pengandaian yang menggetarkan
jiwa.
Beberapa Tempat di Ngawi
Setelah tahu bahwa nama Ngawi memiliki makna yang begitu dalam, mari kita lihat 7 tempat yang menjadi simbol Ngawi.
1. Waduk Pondok
Waduk Pondok merupakan salah satu obyek yang indah dan masih alami.
Dengan luas sekitar 2596 Ha, mampu menampung air sampai dengan
29.000.000 m3, membuat Waduk Pondok seperti hamparan air yang menyerupai
danau dengan latar belakang hutan daerah perbukitan. Selain sebagai
tempat rekreasi keluarga, Waduk Pondok juga merupakan surga bagi para
pemancing. Disana banyak ditemukan berbagai jenis ikan seperti Tombro,
Tawes, Nila, Bnadeng, Patin, Udang dll.Sebuah pemandangan yang menarik
apabila malam menjelang di Waduk Pondok. Disamping itu secara berkala
diWaduk Pondok disenggarakan lomba mancing yang banyak dinikmati oleh
para pemancing. Yang lebih menarik dari obyek wisata ini adalah
dilestarikannya sebuah upacara adat yang oleh masyarakat disebut
"Nyadran/Keduk Beji Waduk Pondok" yang biasanya dilaksanakan setiap
bulan Syuro. Waduk Pondok sendiri mempunyai suatu legenda, dimana nama
Pondok bermula dari banyaknya pondok - pondok yang dibangun oleh
peziarah disekitar sumber mata air untuk melakukan ngalap berkah atau
tirakatan.
2. Benteng Van Den Bosch / Benteng Pendem
Benteng ini dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1839-1845
dengan nama Fort Van den Bosch. Terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan
Ngawi, Kabupaten Ngawi. Dulu benteng ini merupakan saksi sejarah
terjadinya pertempuran antara pasukan Diponegoro dan tentara Belanda di
Ngawi selama berkobarnya perang Jawa atau perang Diponegoro tahun
1825-1830.
3. Srigati
Dulu seorang prabu yang bernama Brawijaya meletakkan pakaian
ke-Prabon-nya di bawah sebuah pohon di Srigati setelah pergi karena
tidak mau memeluk Islam. Nah, tempat inilah yang kemudian dijadikan
tempat keramat dan dibuatkan cungkup yang berkelambu. Setiap malam
ketika purnama pada bulan Syura, diadakan upacara adat pengganti Lengse
(kelambu). Peristiwa ini selalu ramai akan pengunjung dari berbagai
penjuru dan pelosok. Aura mistis Srigati yang diembel-embeli Alas
Ketonggo seolah menjadi magnet tersendiri dan tempat itu menjadi sebuah
tempat kaul/nadhar. Hingga kini pakaian prabu Brawijaya V masih utuh dan
dalam keadaan bagus tanpa cacat dan cela berkat lumuran cairan kayu
cendana.
4. Jamus
Jamus adalah salah satu tempat wisata yang sering dikunjungi. Ternyata
tak hanya panorama kebun teh nan hijau saja yang ada di sini. Masih
banyak beberapa fasilitas hiburan yang cukup untuk menenangkan pikiran,
seperti: Obyek Agrowisata, Grojogan Songo Tuk Pakel, Bumi Perkemahan
Katilidaman, Kincir Air Pembangkit Tenaga Listrik Peninggalan Belanda,
panorama Gardupolo, Kolam Renang Anak-Anak "Sumber Lanang", dan Grojogan
Kedung Putri.
5. Museum Trinil
Museum Trinil berada di Jalan Raya Solo-Surabaya, Pedukuhan Pilang, Desa
Kawu, Kecamatan Kedunggalar ini bisa menjadi obyek wisata belajar yang
menyenangkan. Situs museum Trinil ini dalam penelitian merupakan salah
satu tempat hunian kehidupan purba pada zaman Pleistosen Tengah, kurang
lebih 1,5 juta tahun yang lalu. Situs ini amat penting sebab selain
ditemukan data manusia purba juga menyimpan bukti konkrit tentang
lingkungannya, baik flora maupun faunanya.
6. Monumen Suryo
Monumen Suryo ini berdiri di sebuah hutan jati yang dibangun untuk
menghormati Gubernur pertama Jawa Timur, Mr. Soerjo. Dia tewas dalam
kerusuhan komunis pada tahun 1948. Seperti resor wisata alam lainnya,
resor ekowisata ini juga menawarkan panorama alam yang mengatur terhadap
jati mahoni padat dan kehutanan. Selain untuk mengenang, tempat ini
juga didirikan untuk menandai 23 jenis tanaman langka yang dilindungi
oleh hukum, seperti: sawo kecik, citradora, cendana sonokeling, dan
lain2. Ada juga banyak jenis burung yang telah dibesarkan seperti:
Perkutut, Podang, Jalak, dan Bekisar.
7. Alas Ketonggo
Budaya Jawa menyimpan dan menyelinapkan tabir-tabir misteri sebagai
inspirasi spirit dan mental yang berwujud sanepan dengan makna yang
tersirat, bukan tersurat bagi generasi-nya, agar tidak lengkang oleh
perkembangan jaman. Alas Ketonggo sebagai satu contoh tempat yang
menyimpan legenda dan mitos di dalam angan-angan dan impian di dalam
pikiran, perasaan dan budi. Ada banyak masyarakat yang hanyut pengertian
dan pengetahuannya untuk meyakini dan mempercayai Alas Ketonggo dengan
makna tersurat atau lahiriah. Hingga tidak tanggung-tanggung secara
mentah menjadikan Alas Ketonggo sebagai ajang pencarian inspirasi demi
perkembangan mental dan spiritnya.
Setidaknya itulah 7 tempat yang ada di Kota Ngawi yang bisa saya suguhkan kepada pembaca.
Salam.
Sumber: Majalah Artesis Smasa Ngawi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar